Pembuktian Xherdan Shaqiri
![]() |
| Selebrasi Shaqiri setelah mencetak goal ke gawang MU, minggu (16/12). |
Perjalanan karir sepakbola Xherdan Shaqiri terbilang naik turun. Mengawali karir di tim FC Basel pada tahun 2007, mencatatkan 19 penampilan dan mencetak 8 goal. Kemudian pindah ke Bundes Liga bersama Bayern Munchen. Ini adalah karir yang terbilang bagus bisa bergabung dengan raksasa Jerman tersebut.
Di Bayern Munchen, Ia bukanlah pilihan utama. Saingan yang lebih unggul membuatnya harus berada lebih banyak di bangku cadangan. Meski demikian, tampil 52 kali dengan 11 goal bisa dibilang adalah pencapaian yang bagus. Tiga tahun di Bayern Munchen, Shaqiri akhirnya berlabuh ke Premier League bersama Stoke City. Padahal banyak sekali tawaran yang datang dari klub lain yang lebih bagus, termasuk klubnya saat ini, Liverpool.
Di tim nasional (timnas) Swiss pun Ia menjadi langganan sejak di tim U-17. Hingga saat ini Ia masih menjadi andalan timnas Swiss. Sementara, di Stoke City, Ia menjadi pengatur serangan klub. Meski akhirnya tidak bisa menyelamatkan Stoke dari degradasi di akhir musim 2017/2018.
Saat itu Shaqiri di nilai tidak mampu menunjukan skillnya. Saat diwawancarai Scheweizer Illustrierte, Shaqiri mengatakan bahwa teman-teman di sekelilingnya tidak mampu membantunya untuk bisa mengerahkan kemampuan terbaiknya serta memberi dampak lebih untuk Stoke City. "Di Stoke, aku tidak bisa memberikan banyak dampak karena kurangnya kualitas dari para pemain yang ada di sekelilingku (rekan satu tim)." Katanya seperti yang dikutip oleh Pandit Football.
Atas pernyataan itu, Shaqiri pun dikritik oleh Neville bersaudara. Kritik itu disampaikan Neville saat Shaqiri hendak memulai pertandingan perdananya melawan Brasil di Piala Dunia 2018.
Neville yang menjadi pengamat untuk pertandingan itu di salah satu stasiun televisi Inggris, menyebut Shaqiri sebagai contoh pemain yang tidak profesional karena terkesan membuat dirinya lebih tinggi dibandingkan rekan satu timnya di Stoke.
“Jujur saja, aku tidak suka Shaqiri,” kata Gary Neville. “Aku pikir itu (wawancara Shaqiri dengan Scheweizer Illustrierte) sangatlah buruk. Mencerminkan bahwa dirinya seakan berjarak dengan rekan satu tim di Stoke.”
“[Kegagalan] Stoke musim lalu menunjukkan bahwa mereka kurang profesional. Shaqiri adalah salah satu contohnya,” imbuh Neville.
Selanjutnya, giliran Philip Neville yang melayangkan kritik keras kepada Shaqiri. Adik kandung dari Gary Neville itu menyampaikannya saat menjadi komentator pertandingan Swiss kontra Swedia di babak 16 besar Piala Dunia 2018,
“Aku tidak suka Shaqiri. Ia sangat memalukan di Stoke. Sikapnya sangat mengejutkan,” ujar Phil Neville.
Shaqirir sendiri tidak masalah dengan kritikan tersebut. Toh, dia membuktikannya saat pra-musim melawan Manchester United (MU) di International Champion Cup (ICC). Dan kemarin malam, saat kembali menghadapi MU di pekan ke-17 Premier League.
Shaqiri masuk di menit ke-70, menggantikan Nabie Keita. Tiga menit kemudian Ia berhasil mencetak goal pada menit ke-73. Tidak berselang lama, Ia kembali mencetak goal dan memastikan kemenangan Liverpool atas MU.
Dua goal ini menjadi pembuktian akan kualitas Shaqiri dan menjawab kritikan yang Ia terima. Soal kritikan, bukankah lebih baik membalasnya dengan prestasi? Begitulah kiranya.

Post a Comment