Menanti 'Magic' dari Pogba



Dalam artikel di PanditFootball bejudul Kesalahan Besar Ferguson di Hari Ulang Tahunnya, diceritakan bagaimana kondisi Paul Pogba saat masih awal-awal berseragam Manchester United. Saat itu menjadi momen yang meyakitkan bagi Pogba. Kondisi Manchester United di akhir tahun 2011 sangat krisis. Badai cedera melanda mereka. Sialnya, yang terkena adalah bek mereka, Nemanja Vidic, Rio Ferdinand, dan Jhony Evans.

Ferguson pun memutar otak, meyusun pemain terbaiknya untuk melawan Blackburn di kandang. Ferguson pun menurunkan Michael Carrick, seorang gelandang tengah natural, di posisi bek tengah. Saat itu United tidak memiliki banyak pilihan. Dengan cederanya juga Darren Fletcher, ia dipastikan akan menurunkan Park Ji-Sung, seorang winger, sebagai gelandang tengah. Pertanyaannya adalah, siapa yang akan menemani Park?

Dengan bermainnya Carrick sebagai bek tengah, hal ini pastinya membuka jalan bagi Paul Labile Pogba, yang saat itu masih berusia 18 tahun. Bukan ingin berjudi, bermainnya Pogba menjadi alasan yang bisa diterima karena sebelumnya Pogba memang sudah bermain di tiga pertandingan Piala Liga Inggris, serta reputasinya yang sudah sangat tinggi di kalangan pemain reserve dan akademi United.

Tapi yang terjadi malah di luar dugaan. Ferguson menghabiskan malam ulang tahunnya yang ke-70 dengan duet Park dan Rafael da Silva (ya, Rafael yang bek sayap kanan itu!) sebagai gelandang tengah. Sementara Pogba duduk manis di bangku pemain pengganti sampai pertandingan berakhir.

"Itu adalah saat yang sangat sulit bagiku karena aku jatuh cinta dengan Manchester [United] dan aku adalah Mancunian,” kata Pogba kepada Canal+ pada 2014.

Ia merasakan bahwa saat itu Ferguson benar-benar belum memercayai kemampuannya. “Pertandingan melawan Blackburn pada Desember 2011 di Old Trafford. Paul Scholes sudah pensiun, Darren Fletcher sedang cedera. Tidak ada lagi yang bisa bermain sebagai gelandang tengah, dan aku berlatih dan aku mulai merasa lebih baik sedikit demi sedikit, dan manajer tidak pernah berhenti berkata kepadaku, ‘Kamu sudah sejauh ini’.”

“Dan aku tidak paham. Sejauh ini dari apa? Dari bermain? Dari mendapatkan waktu bermain? Dari menginjakkan kaki di atas lapangan? Atau dari apa?”

“Kemudian ada Rafael di gelandang tengah dan aku merasa jijik. Aku merasa jijik dan aku juga tidak dimainkan.” katanya, dikutip dari Pandit Football.

Pogba pun hengkang ke Juventus dengan Free Transfer. Ia ingin membuktikan bahwa Ferguson salah karena menilainya belum siap untuk tampil. Saat itu Pogba masih berusia 18 tahun. Di Juventus, Pogba pun benar-benar menunjukan talentanya. Ia menjadi andalan tim berjuluk Si Nyonya Tua tersebut. Bahkan, Ia mendapat kesempatan untuk membela negaranya, Perancis.

Semakin lama, Pogba semakin menjadi. Ia benar-benar menjadi pemain muda yang hebat. Bersama Juventus, ia berhasil meraih banyak gelar juara. Hingga menjadi rebutan beberapa klub besar seperti Real Madrid, bahkan mantan klubnya, Manchester United pun tertarik untuk memulangkannya ke Old Trafford.

Tahun 2016, saat Manchester United dilatih Jose Mourinho, Pogba kembali ke pelukan Manchester United. Saat itu, Manchester United harus mengeluarkan uang 100 juta poundsterling lebih dan menjadikanya pemain termhaal dunia, mengalahkan Cristiano Ronaldo saat dibeli Real Madrid pada tahun 2009.

Bergabung dengan Machester United tidak serta merta langsung klop dengan permainan Mourinho. Pogba seakan kesulitan menunjukan talenta hebatnya di Premier League seperti kala bermain di Italia. Butuh waktu untuknya beradaptasi dengan lingkungan Premier League.

Tidak hanya itu, Ia pun sempat beberapa kali tidak sepaham dengan Mourinho, yang berujung tidak dimainkannya Pogba di pertandingan Manchester United. Puncaknya, pada desember 2018, Pogba menjadi penghangat bangku cadangan di dinginnya cuaca desember. Pogba, di bawah asuhan Mourinho kehilangan magicnya. performa angin-anginannya tidak sebanding dengan harga yang menempel kepadanya.

Dilansir dai SquawkaFootball, dalam 14 pertadingannya bersama Manchester United, ia hanya mencetak tiga goal dan dua assist. Pencapaian yang buruk jika dibandingkan dengan statistiknya di Juventus. Pogba pun menjadi bahan ejekan supporter tim rival.

Kini, setelah Mourinho pergi dari Manchester United, Pogba menemukan kembali magicnya. Di bawah asuhan Solkjaer, Pogba yang sekarang seperti Pogba yang dulu berseragam Juventus. Terbukti dengan torehan statistik yang sangat baik seperti dilansir Squawka. Dalam tiga pertandingannya bersama Solkjaer, Pogba berhasil mencetak empat goal  dan tiga assist.
Sepertinya, kita harus sabar menunggu sedikit lagi. Menunggu magic Pogba kembali lagi.

No comments

Powered by Blogger.